Brylcreem Wax

BRYLCREEM WAX

Sebuah Cerita Singkat

 

Brylcreem, brand produk gaya rambut yang lahir di Inggris pada 1928, cukup “legend” di kelasnya dengan produk pertama yang tercipta adalah ‘Hair Cream’. Seiring bejalan nya waktu yang kini di pegang oleh Unilever

 

Cerita kali ini akan memaparkan seedikit mengenai salah satu varian ‘wax’ dari ‘Brylcreem’ yang layak untuk dicoba,

Pertama kali beredar kemungkinan pada era 2013-204, dengan isi pada deskripsi hanya 75 ml, tanpa tercantum informasi deskripsi bahan penyusun pada labelnya.

Karakter khas klasik ‘Oil Based’ dengan catatan keterangan ‘Strong Hold’. Dimensi kemasan diameter 7 cm dengan tinggi 4 cm (penampakan seperti pada gambar). Pot plastik pabrikan warna Merah dengan tutup Silver.

 

Visual pertama hadir tanpa asupan tambahan pewarna, tampak natural warna bahan penyusun. Aroma yang khas klasik perfumery khas ‘Brylcreem’. Menilik dan menganut apa yang tercantum pada keterangan bahwa wax satu ini menuliskan ‘Strong Hold’ dan apakah memang benar demikian jika produk satu ini ketika sudah singgah di Jogjakarta yang dataran rendah dan lumayan panas ini?

Setelah mencoba mencoleknya, sedikit keras pada awal pencolekan, tanpa ada efek empuk/membal sama sekali dan fase berikutnya setelah dicoba ratakan walhasil lebih berkarakter Medium atau Pure medium, oily dengan kilau yang sedikit dominan, tidak terlalu lengket ‘sticky’ yang cenderung ‘waxy’. Elegan dan cukup moderat digunakan bagi penggemar gaya rambut yang rapi, mudah ditata tanpa daya cengkeram yang berlebihan pada rambut dibalut aroma yang pas dan sedikit kilau.

Menilik dari segi isi, garis besar bahan yang terkandung berkarakter wax dan oil tanpa kehadiran material semi padat yang signifikan, cenderung bergaya tekstur natural tanpa lengket yang berlebihan, mudah diaplikasikan dan layak untuk dicoba jika anda penggemar klasikan gaya ‘oily’ dan ‘waxy’.

Sekilas cerita mengawali kembali untuk berbagi dan bercerita setelah beberapa waktu tidak sempat untuk menulis, semoga membawa manfaat, terimakasih

Salam klimis

#klimiskagemsedanten

@lalijungkatan

Advertisements

Kembali Berbagi

Terkadang hal sederhana walaupun sekedar username dan password login, jika terlupa pun ternyata sedikit menyulitkan untuk kembali berkutat ke urusan regulasi penyedia jasa blog untuk menyelesaikannya.

Sebelumnya mohon maaf jika beberapa waktu ke belakang hal ini pun terjadi dengan lalijungkatan, karena kebetulan nomor yang lama pun telah raib dan sulit untuk mengaktifkan kembali ke pihak yang bersangkutan berkaitan dengan semakin ketatnya regulasi dunia telekomunikasi di negara kita.

Maaf lahir dan batin kami ucapkan meskipun sedikit terlambat, dan ke depan akan kami ulas-ulas kembali mengenai segala macam cerita dan dinamikanya seperti ulasan-ulasan sebelumnya.

Beribu maaf jika banyak komentar yang belum sempat terbalas karena kendala di atas dan satu per satu akan kami urai untuk menanggapinya kembali.

Tidak banyak kata unuk memulai lagi isi halaman ini pada kali ini, dan salam klimis, terimakasih

@lalijungkatan

Japarco Brilliantine Pomade – Pomade Kenangan Masa Lampau – PART II

Artikel pertama di tahun 2018

Yang akan terpapar kali ini adalah sebuah lanjutan sederhana dari posting Part I (November 2013 yang lalu). Cukup lama dan inilah bagian terindah dari nilai sebuah proses, dimana ada perjuangan diidalamnya untuk mendapatkan apa yang bahasa awam ucapkan sebagai hobi koleksi.

Sedikit melanjutkan cerita tentang ‘Japarco’. Sebuah kenangan yang pernah ada hadir meramaikan gaya hidup klimis di Indonesia.

Japarco yang ke-3 berikut menggunakan kemasan jar beling kaca yang cukuplah tebal, dengan penutup logam dan menggunakan embos bertuliskan Japarco. Menggunakan tipe huruf ‘font’ klasik bergambar  sosok wajah dari sisi samping seorang pria dan wanita. Tidak terdapat keterangan isi atau beratnya yang tertera pada kemasan (umumnya dengan ukuran 5.5 cm x 6.5 cm seperti ini tidaklah jauh-jauh dari kisaran 100 gram atau sekitar 2.5 – 3 Oz). Berat total kemasan beserta isinya kurang lebih 200 gram.

Entah memiliki aroma bawaan apa yang sebenarnya terkandung dalam pelumas rambut tersebut karena termakan usia dan mulai hambar bahkan samar tercium. Kemungkinan tidaklah jauh dari aroma aroma classic gaya minyak rambut jaman dahulu seperti lavender, baby powder dan sebagainya.

Label dan embel-embel tulisan yang mengisi sekujur stiker (kertas) yang menempel pada kemasan tersaji dalam bahasa indonesia dan belanda (meskipun ada beberapa kata dalam bahasa Inggris yang menekankan demikian ‘Not Sticky – Not Gummy’ kurang lebih menekankan bahwa minyak rambut ini tidaklah lengket pada aplikasinya dan hanya cenderung memberikan nilai kilau pada rambut untuk memudahkan dalam penataan saja.

Bahasa Indonesia yang tercantum didalam nya sudahlah termasuk kekinian sebenarnya ‘di jaman nya’ ya, namun sebenarnya tidaklah tabu bagi beberapa penggiat kekunoan untuk menggunakan nya dijaman sekarang bukan?

Japarco membikin ramboet mendjadi haloes serta mengkilap. Menjegah rontoknja ramboet dan membbikin koeat djoega. Sangat bergoena bagi orang perempoean seabisnja pakai shampoo serta mengampangken bikin krul dan ombak ramboet, tidak mengendal dan tidak pliket

Kemungkinan besar produk yang satu ini dikhususkan untuk konsumsi kaum perempuan jika merunut deskripsi yang terpapar dalam keterangan pada label (namun mungkin juga tidaklah salah jika konon waktu itu pun banyak kaum adam yang menggunakannya).

Inilah poin yang saat ini layak untuk digaris bawahi apakah produk pelumas rambut semacam ini hanya untuk lelaki saja? untuk ‘gentleman’ saja? Jawaban yang masuk akal mungkin hanya ada di benak masing-masing pembaca sekalian seiring dengan ragam embel-embel argumentasi didalam nya.

Bahasa kedua sepertinya menggunakan Bahasa Belanda, layaknya versi dua bahasa dalam pengenalan produk yang esensinya tidaklah jauh berbeda. Hanya konteks sasaran penggunanya yang di titik beratkan pada waktu itu salah satu alasan yang tepat kenapa disajikan dalam pilhan 2 bahasa tersebut.

Logo bulat kecil bertuliskan ‘POMADE JAPARCO’. Pomade, sebuah kata yang sebenarnya cukup lama hadir di Indonesia.

Mengenai isi, tidaklah jauh dari gaya-gaya khas brilliantine seperti pada posting Hayjen Pomade terdahulu, lembut dan halus pada pencolekan, tanpa rasa berat, cukup tangguh untuk memberikan kilau pada rambut sesuai yang dideskripsikan pada ‘product knowledge’ dalam kemasan nya.

Kurang lebih sekelumit cerita pembuka di 2018 ini, mencoba kilas balik mengulik puing-puing produk gaya rambut tempo dulu yang ramai menghiasi Indonesia, jika untuk tahu pun kita harus berproses maka dengan kenal saja untuk sementara sudahlah dirasa cukup, untuk selanjutnya berjuang kembali untuk semakin tahu dan tahu.

Sekian saja dan terimakasih, dan salam klimis Indonesia.

 

Pot Kaleng Lokal

#salamklimis

Tak terasa hampir 6 bulan berjalan hibernasi dalam berbagi cerita semenjak posting terakhir bulan Mei silam, memang terkadang satu dua kesibukan membuat beberapa rutinitas menjadi pincang dan terlalaikan, bahkan kolom komentarpun menumpuk tanpa sempat terbalas, maaf dan ke depan satu per satu akan terurai kembali seiring berjalan nya kembali rutinitas di blog ini.

Untuk mengawali postingan kali ini, sekedar posting ringan dan sedikit mengulang postingan awal 2015 lalu mengenai kemasan. Seperti kita ketahui dinamisasi kemasan sampai detik ini amat sangat variatif hadir dengan ragam ukuran, warna, material bahkan bentuk pun mulai variatif.

Ulasan kali ini tidak jauh dari kemasan yang pada era nya  sangat populer dan paling mudah untuk diperoleh bagi para penggiat hasil karya rumahan yang bernama minyak rambut. Ya..kaleng logam produk lokal dengan tinggi 5 cm dan diameter 7.5 .

Inilah dia penampakan nya, kemasan yang hampir terlupakan dan kurang di minati karena banyaknya ragam kemasan baru yang bermunculan namun masih ada juga beberapa yang mempergunakan kemasan satu ini.

Tidak mau ketinggalan untuk tetap eksis dan meramaikan pasar kemasan, jenis yang lain dari kemasan ini mulai muncul kembali dengan diversifikasi ragam warna dan ukuran. Dari yang semula hanya berwarna Silver, kini hadir ragam warna Gold, Coklat, Hitam, Merah, Pink, Biru.

Pun yang semula ukuran nya dirasa terlalu besar, telah beredar pula ukuran versi kecilnya yang berukuran kira-kira separuh dari ukuran gambar di atas.

   Dengan tinggi hanya 2.5 cm dan diameter yang masih sama 7.5 cm dengan warna Hitam.

Lekuk detail yang masih sama dengan kemasan sebelumnya, dibalur dengan coating cat berwarna Hitam kilau dan masih saja dengan tutup ‘slip on’ tanpa ulir.

Sekilas semacam versi simpel dan lokalan dari kemasan Murray’s. Dengan daya tahan karat cukup mumpuni (jika boleh memberikan komparasi tidaklah beda jauh dengan grade kemasan ‘Kustom Kreeps’ kira-kira). Dengan coating semacam cat bakar yang lumayan tebal, tidak mudah mengelupas kiranya menjadi nilai lebih untuk memperpanjang ketahanan terhadap karat dari kemasan versi baru yang di balur warna ini.

Beberapa responden sempat melontarkan bahwa nilai klasik dari kemasan ini masih kental terasa bila dibandingkan dengan kemasan yang lain, atau lain hal yang menjadi petimbangan para ‘Home Brewer’ untuk masih setia menggunakan kemasan ini tetap sah-sah saja.

Seperti ini VAMPODE misalnya, atau

Cap Kobra

One Thirty Eight

Dan masih banyak lagi. Dinamisasi pilihan terbaik untuk tampil unik dan beda dalam berkarya patut untuk kita acungi Jempol, dan selamat bereksplorasi, tetap semangat, tetap selalu berkarya.

Sekian walau sekilas dan salam hangat untuk semuanya, salam klimis !

Solid Cologne

Solid Cologne

Mengapa Solid Cologne/Solid Perfume/Parfum Padat ?

Menilik ke belakang ulasan-ulasan sejarah dunia, solid cologne telah hadir sejak jaman mesir kuno. Parfum dengan aroma khas tertentu menjadi perlambang simbolisasi makna spesifik dimana dewa-dewa pada waktu itu terasosiasi erat dengan ragam aroma-aroma.

Jadi bukanlah barang baru lagi mengenai perwujudan solid cologne atau solid perfume tersebut. Sedikit berbeda dengan wujud cair, solid cologne lebih bersifat konsentrat dan memiliki ‘hint’ atau ‘note’ spesifik yang muncul ketika kita aplikasi pada kulit. Dengan daya penguapan yang lebih lama bila dibanding kan dengan yang cair dan memiliki bentuk kemasan yang lebih paraktis mudah dibawa kemana-mana (travel pack) dan tidak khawatir lagi akan tumpah bahkan pecah.

Penggunaan solid cologne pada umumnya dilakukan di belakang telinga, pada siku tangan, pergelangan tangan bahkan ada pula pada lipatan kaki (lutut).

Home Made sederhana LADJOE Solid Perfume, Mengkombinasikan konsentrat ‘Cigar’ dan ‘Berry’. Mencoba mengeksplorasi kombinasi Buah dan Rempah didalamnya. Dipadu padan dengan Butter dan ekstra Vitamin E Oil. Mudah teraplikasi pada kulit, tanpa meninggalkan bekas daki atau flake ketika digunakan. Dengan kemasan 15 gram aluminium tin yang semoga saja jauh dari efek korosi untuk jangka waktu yang lama.

Semoga bermanfaat dan membawa nuansa ragam pengharum tubuh dengan citarasa yang lain. Selamat menikmati dan selamat mencoba. Salam hangat dan terimakasih.

Berkenan untuk mencoba dan dapatkan di :

tokopedia.com/lalijungkatan

#wangikagemsedanten