Hot Rod Weekend Party 2018

Pakansi akhir pekan minggu ini, HOT ROD WEEKEND PARTY 2018.

HOT ROD WEEKEND PARTY 2018, ajang tahunan berkumpulnya para penggemar “American Classic Car” Hotrodiningrat Yogyakarta yang bertajuk Hotrod Weekend Party

American Hot Rod & Kustom Car Show kali ini di iselenggarakan pada tanggal 3-4 November bertempat di Kampung Mataraman, Yogyakarta. Sebuah komplek yang bertemakan tradisional resort garden yang unik untuk even kali ini.

Adapun rangkaian acara dalam event pesta Hot Rod mania Indonesia tersebut selain Show Off American Hot Rod & Kustom Car Show, dimeriahkan pula dengan tampilnya beberapa grup music Rockabilly yang tidak jauh dari skena event tersebut, rangkaian Contest dan ragam pernak-pernik didalamnya.

Dan even kali ini yang membuat berbeda dengan even sebelumnya adalah GRATIS untuk semua pengunjung, dan akan hadir dengan citarasa khas Kultur Jogjakarta tercinta (nguri-uri kabudayan).

Masih penasaran dengan acara tersebut, ikuti terus beritanya di dunia Sosialita karena Lali Jungkatan juga akan turut ber ramai-ramai ria memeriahkan di TKP bersama kawan-kawan dari Jogjakarta tercinta, semangat dan salam klimis.

https://www.instagram.com/lalijungkatan/
Advertisements

MISUH ADALAH HAK

Sebuah pergerakan, dari sekian banyak ragam budaya nusantara, bernuansa budaya lestari, budaya Jawa. 

Dan yang unik dan belum pernah ada dalam cerita kali ini adalah, “Sayembara Misuh”. Mrngutip dari halaman facebook “Jawa Sastra” , 

Misuh menurut Jawasastra adalah ekspresi yang diucapkan yang menggambarkan suasana hati. Misuh memiliki sifat lugu dan apa adanya. Meski sudah banyak yang mengkaji dan menelisih asal usul maupun sejarah misuh, bahkan ada gerakan yang berupaya menyampaikan bahwa misuh itu bukan dosa. Tapi hingga saat in misuh belum mendapat ruang dan waktu untuk menunjukkan ekistensinya dengan cara dilombakan. Oleh karena itu JAWA Sastra menginisiasi lomba yang mungkin menurut perspektif orang kuno, “Tidak pantas”

Kebudayaan Jawa membutuhkan pembaharuan. Dengan mengusung tema “Lebih baik Saru daripada Sara“. Jawasastra yakin bahwa misuh bisa dieksplorasi, dimaknai kembali, dikreasi, dan senantiasa menemukan inovasi. Di dalam sayembara ini misuh mencoba untuk mengambil sisi positif, bukan negatif.

“MISUH ADALAH HAK”

Sebuah ide kreatif yang masih menghormati ranah-ranah etika tanpa melibatkan nuansa berbau kebencian, keberpihakan maupun hadirnya aroma-aroma unsur SARA

Sayembara Misuh 2018

Tertarik dan berminat untuk berpartisipasi ? silahkan telusuri informasi lebih detail nya ke halaman Facebook “Jawa Sastra” atau bisa ikuti instagram nya ke “Jawa Sastra Culture Movement“. 

Selamat berkreasi dan berimajinasi sepenuh hati, salam budaya

#klimiskagemsedanten

Brylcreem Wax

BRYLCREEM WAX

Sebuah Cerita Singkat

 

Brylcreem, brand produk gaya rambut yang lahir di Inggris pada 1928, cukup “legend” di kelasnya dengan produk pertama yang tercipta adalah ‘Hair Cream’. Seiring bejalan nya waktu yang kini di pegang oleh Unilever

 

Cerita kali ini akan memaparkan seedikit mengenai salah satu varian ‘wax’ dari ‘Brylcreem’ yang layak untuk dicoba,

Pertama kali beredar kemungkinan pada era 2013-204, dengan isi pada deskripsi hanya 75 ml, tanpa tercantum informasi deskripsi bahan penyusun pada labelnya.

Karakter khas klasik ‘Oil Based’ dengan catatan keterangan ‘Strong Hold’. Dimensi kemasan diameter 7 cm dengan tinggi 4 cm (penampakan seperti pada gambar). Pot plastik pabrikan warna Merah dengan tutup Silver.

 

Visual pertama hadir tanpa asupan tambahan pewarna, tampak natural warna bahan penyusun. Aroma yang khas klasik perfumery khas ‘Brylcreem’. Menilik dan menganut apa yang tercantum pada keterangan bahwa wax satu ini menuliskan ‘Strong Hold’ dan apakah memang benar demikian jika produk satu ini ketika sudah singgah di Jogjakarta yang dataran rendah dan lumayan panas ini?

Setelah mencoba mencoleknya, sedikit keras pada awal pencolekan, tanpa ada efek empuk/membal sama sekali dan fase berikutnya setelah dicoba ratakan walhasil lebih berkarakter Medium atau Pure medium, oily dengan kilau yang sedikit dominan, tidak terlalu lengket ‘sticky’ yang cenderung ‘waxy’. Elegan dan cukup moderat digunakan bagi penggemar gaya rambut yang rapi, mudah ditata tanpa daya cengkeram yang berlebihan pada rambut dibalut aroma yang pas dan sedikit kilau.

Menilik dari segi isi, garis besar bahan yang terkandung berkarakter wax dan oil tanpa kehadiran material semi padat yang signifikan, cenderung bergaya tekstur natural tanpa lengket yang berlebihan, mudah diaplikasikan dan layak untuk dicoba jika anda penggemar klasikan gaya ‘oily’ dan ‘waxy’.

Sekilas cerita mengawali kembali untuk berbagi dan bercerita setelah beberapa waktu tidak sempat untuk menulis, semoga membawa manfaat, terimakasih

Salam klimis

#klimiskagemsedanten

@lalijungkatan

Kembali Berbagi

Terkadang hal sederhana walaupun sekedar username dan password login, jika terlupa pun ternyata sedikit menyulitkan untuk kembali berkutat ke urusan regulasi penyedia jasa blog untuk menyelesaikannya.

Sebelumnya mohon maaf jika beberapa waktu ke belakang hal ini pun terjadi dengan lalijungkatan, karena kebetulan nomor yang lama pun telah raib dan sulit untuk mengaktifkan kembali ke pihak yang bersangkutan berkaitan dengan semakin ketatnya regulasi dunia telekomunikasi di negara kita.

Maaf lahir dan batin kami ucapkan meskipun sedikit terlambat, dan ke depan akan kami ulas-ulas kembali mengenai segala macam cerita dan dinamikanya seperti ulasan-ulasan sebelumnya.

Beribu maaf jika banyak komentar yang belum sempat terbalas karena kendala di atas dan satu per satu akan kami urai untuk menanggapinya kembali.

Tidak banyak kata unuk memulai lagi isi halaman ini pada kali ini, dan salam klimis, terimakasih

@lalijungkatan

Japarco Brilliantine Pomade – Pomade Kenangan Masa Lampau – PART II

Artikel pertama di tahun 2018

Yang akan terpapar kali ini adalah sebuah lanjutan sederhana dari posting Part I (November 2013 yang lalu). Cukup lama dan inilah bagian terindah dari nilai sebuah proses, dimana ada perjuangan diidalamnya untuk mendapatkan apa yang bahasa awam ucapkan sebagai hobi koleksi.

Sedikit melanjutkan cerita tentang ‘Japarco’. Sebuah kenangan yang pernah ada hadir meramaikan gaya hidup klimis di Indonesia.

Japarco yang ke-3 berikut menggunakan kemasan jar beling kaca yang cukuplah tebal, dengan penutup logam dan menggunakan embos bertuliskan Japarco. Menggunakan tipe huruf ‘font’ klasik bergambar  sosok wajah dari sisi samping seorang pria dan wanita. Tidak terdapat keterangan isi atau beratnya yang tertera pada kemasan (umumnya dengan ukuran 5.5 cm x 6.5 cm seperti ini tidaklah jauh-jauh dari kisaran 100 gram atau sekitar 2.5 – 3 Oz). Berat total kemasan beserta isinya kurang lebih 200 gram.

Entah memiliki aroma bawaan apa yang sebenarnya terkandung dalam pelumas rambut tersebut karena termakan usia dan mulai hambar bahkan samar tercium. Kemungkinan tidaklah jauh dari aroma aroma classic gaya minyak rambut jaman dahulu seperti lavender, baby powder dan sebagainya.

Label dan embel-embel tulisan yang mengisi sekujur stiker (kertas) yang menempel pada kemasan tersaji dalam bahasa indonesia dan belanda (meskipun ada beberapa kata dalam bahasa Inggris yang menekankan demikian ‘Not Sticky – Not Gummy’ kurang lebih menekankan bahwa minyak rambut ini tidaklah lengket pada aplikasinya dan hanya cenderung memberikan nilai kilau pada rambut untuk memudahkan dalam penataan saja.

Bahasa Indonesia yang tercantum didalam nya sudahlah termasuk kekinian sebenarnya ‘di jaman nya’ ya, namun sebenarnya tidaklah tabu bagi beberapa penggiat kekunoan untuk menggunakan nya dijaman sekarang bukan?

Japarco membikin ramboet mendjadi haloes serta mengkilap. Menjegah rontoknja ramboet dan membbikin koeat djoega. Sangat bergoena bagi orang perempoean seabisnja pakai shampoo serta mengampangken bikin krul dan ombak ramboet, tidak mengendal dan tidak pliket

Kemungkinan besar produk yang satu ini dikhususkan untuk konsumsi kaum perempuan jika merunut deskripsi yang terpapar dalam keterangan pada label (namun mungkin juga tidaklah salah jika konon waktu itu pun banyak kaum adam yang menggunakannya).

Inilah poin yang saat ini layak untuk digaris bawahi apakah produk pelumas rambut semacam ini hanya untuk lelaki saja? untuk ‘gentleman’ saja? Jawaban yang masuk akal mungkin hanya ada di benak masing-masing pembaca sekalian seiring dengan ragam embel-embel argumentasi didalam nya.

Bahasa kedua sepertinya menggunakan Bahasa Belanda, layaknya versi dua bahasa dalam pengenalan produk yang esensinya tidaklah jauh berbeda. Hanya konteks sasaran penggunanya yang di titik beratkan pada waktu itu salah satu alasan yang tepat kenapa disajikan dalam pilhan 2 bahasa tersebut.

Logo bulat kecil bertuliskan ‘POMADE JAPARCO’. Pomade, sebuah kata yang sebenarnya cukup lama hadir di Indonesia.

Mengenai isi, tidaklah jauh dari gaya-gaya khas brilliantine seperti pada posting Hayjen Pomade terdahulu, lembut dan halus pada pencolekan, tanpa rasa berat, cukup tangguh untuk memberikan kilau pada rambut sesuai yang dideskripsikan pada ‘product knowledge’ dalam kemasan nya.

Kurang lebih sekelumit cerita pembuka di 2018 ini, mencoba kilas balik mengulik puing-puing produk gaya rambut tempo dulu yang ramai menghiasi Indonesia, jika untuk tahu pun kita harus berproses maka dengan kenal saja untuk sementara sudahlah dirasa cukup, untuk selanjutnya berjuang kembali untuk semakin tahu dan tahu.

Sekian saja dan terimakasih, dan salam klimis Indonesia.