Pasar Kangen Jogja 2015

lalijungkatan

Kangen-kangenan melestarikan budaya nostalgia

#pasarkangenjogja

Pasar Kangen Jogja, sebuah event tahunan Jogjakarta yang mengusung tema dengan mengangkat kembali produk-produk lawasan jaman dulu (makanan, cinderamata, dll). Seolah mengajak kembali imajinasi kita untuk bernostalgia dengan sajian  masa lalu yang pernah/masih hadir menghiasi sepanjang kisah perjalanan  kehidupan sekitar kita.

Nostalgia, melepas kerinduan sebuah kenangan masa silam yang  dahulu pernah ada. Kerinduan yang bisa saja termanifstasi dalam sebuah nuansa wujud yang baru, bahkan tersaji dalam wujud yang sebenar-benarnya seperti masa silam.

Facebook Pasar Kangen Jogja

Even tersebut akan dilaksanakan di area Taman Budaya Yogyakarta (The Window Of Yogyakarta) di jantung kota Jogjakarta Jalan Sri Wedari No. 2.

Dilaksanakan pada tanggal 25-30 Agustus 2015 dengan menghadirkan kurang lebih 180 stand (kuliner, kerajinan, batu akik) dan dimeriahkan dengan 20 stand kelompok kesenian tradisional yang akan memeriahkan agenda Pasar Kangen Jogja 2015.

Kuliner dan kerajinan jaman dulu yang mungkin saja kini kita susah untuk menikmati dan menemuinya, semoga di sini bisa berjumpa kembali atau bahkan beberapa dari kita menjumpainya untuk pertama kali bahwa sajian-sajian tersebut ternyata pernah ada.

Tidak ada pungutan biaya untuk hadir dalam gelaran acara tersebut untuk menikmati suguhan yang ada meskipun hanya sekedar memanjakan mata. Mari merapat dan mari kangen-kangenan.

#pasarkangenjogja

cropped-cropped-lalijungkatanblogheader-21.png

Advertisements

Budaya itu adalah Sederhana

headlalijungkatanEntah Petrol Base, Organic, Water Base, Clay, Fiber, atau apapun varian dan genre nya, semua adalah sebuah manifestasi hasil kerja keras kreatifitas si pembuatnya dalam mengkreasikan sebuah hasil karya.

Terlepas dari semua perdebatan, pembelaan, keberpihakan saling mengagungkan relatifitas kebenaran dan apapun alasannya terhadap basic varian tertentu, dengan mengesampingkan sejenak sisi manfaat nya pada rambut, entah lokal maupun maupun import, semua akan berujung pada sebuah hasil akhir berupa aplikasi gaya rambut  dan hal tersebut kembali pada kebijakan diri sendiri sebagai pengguna/pembeli akan menjatuhkan pilihannya kemana sesuai selera dan kepuasan masing-masing.

Sederhana yang terkadang kita terlalu disibukkan dengan mudahnya mengulik sebuah makna kekurangan dan kejelekan sesuatu daripada susahnya untuk berani mengungkap  indahnya kebaikan dan membuatnya semakin rumit dan membuang energi dengan kekuatan ego kita untuk bersitegang dan berselisih paham hanya karena perbedaan muatan komposisi bahan.

Apapun yang terjadi dalam dinamika gaya rambut terutama pomade di Indonesia, bahwa mau tidak mau kebhinnekaan tersebut sudah semestinya diterima dengan lapang dada, dengan segala kebaikan, keburukan, kekurangan, kelebihan yang ada. Siapa yang sempurna?

Bahan, umumnya bahan pomade selalu berkecimpung pada lingkup bahan yang sama dalam pembuatan sebuah pomade. Tidak lebih dari padatan (solid) berupa wax dengan segala jenisnya, setengah padatan (semisolid) layaknya butter, serat dan cairan (liquid) berupa oil, air dan lainnya. Tidak terlalu susah membuatnya, yang membedakan adalah proses (toleransi dan koreksi waktu) formulasi dalam mengemas beraneka bahan menjadi sebuah pomade yang khas ala si pembuatnya entah  mengusung  konsep marketing dengan polesan aroma, warna, kemasan, label, genre/tema/komunitas, kasta, harga, tekstur dan hasil akhir aplikasi sehingga tercipta sesuatu yang khas tentu akan kembali pada si pembuatnya. Dan bermuara lagi pada hasil aplikasi bukan? dengan segala gaya rambut sesuai selera masing-masing tentunya.

Bukan berarti semuanya dijalani tanpa mengindahkan yang namanya etika, minimal sebagai wujud untuk menghargai diri sendiri dalam membuat sebuah hasil karya sehingga tercipta sinergi saling menghargai, mengapresiasi. Jika dari dalam saja kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri, masihkah ada harapan sebuah penghargaan akan muncul dari orang lain ?

Setidaknya bisa menjawab sekian banyak pertanyaan/komentar yang termoderasi karena dirasa kurang pas untuk ditayangkan demi menjaga semuanya. Bahwa semuanya adalah hal yang baik wujud sebuah makna kebanggan dan benar dengan versi masing-masing dan pada kenyataan nya perbedaan itu indah jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang kebaikan yang berbeda. Salam klimis.

lalijungkatan-blogfooter

Jungkatan

lalijungkatans

Jungkatan

Tahukah anda, jungkatan atau bahasa Indonesianya sisiran, adalah budaya, budi dan daya warisan leluhur umat manusia dalam rangka pemenuhan hasrat untuk memperindah rambut dengan menatanya dengan sebuah alat berupa keping an kayu, logam, atau plastik bergerigi rapat yang disebut jungkat alias sisir.

Banyak sekali macam ragam jungkat atau sisir, dari segi bahan dari yang berasal dari kayu, plastik, logam dan material modern atau etnik lainnya. Dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang berteknologi tinggi. Atau dilihat dari hasil karya manual ataupun mesin, hingga jenis variasi tingkat kerapatan gerigi yang rapat hingga renggang menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan penggunanya.

Sculptured_Comb_in_Ivory_of_the_Sixteenth_Century_Sauvageot_Collection

seperti gambar di atas salah satunya, contoh sisir (mengambil dari wikipedia) yang berasal dari ukiran gading gajah hasil karya yang kecerdasan manusia pada abad 16 (Koleksi Sauvageot)

konde

Di jawa budaya jungkatan lampau seperti kaum wanita yang berrambut panjang dan gelungan (konde) tidak bisa lepas dari aktifitas yang bernama jungkatan, sebuah syarat mutlak penunjang keindahan rambut supaya tampak rapi dan indah. Toh tidak hanya kaum wanita, kaum pria pun tak lepas dari hal kecil dan sederhana yang bernama jungkatan ini.

Sudagkah kita jungkatan hari ini – jangan lalijungkatan