SEBUAH LEGENDA RAMBOET NETJIS

Pertama di 2019, dan sebelumnya mohon maaf kepada pembaca sekalian karena banyaknya komentar yang termoderasi dan belum bisa terjawab dengan baik, 1. Karena beberapa waktu terakhir ada kendala perpanjangan domain dari pihak wordpress yang menghendaki proses yang penulis sendiri harus memahaminya secara perlahan dan pada akhirnya di penghujung 2018 permasalahan tersebut baru bisa clear dan bisa untuk memulai menulis dan blogging kembali.

Sembari nanti mulai menjawab komentar-komentar yang termoderasi, ijinkan penulis untuk kembali bercerita sedikit mengenai nostalgia ‘Ramboet Netjis’. Bagi yang masih gemar membaca, selamat menikmati. Dan bagi yang kurang hobi membaca, lupakan dan tinggalkan saja…hehe.

Sebuah sejarah yang hilang ditelan jaman, hingga detik ini rangkaian cerita yang akan terpapar berikut selesai pun, belum pernah penulis melihat wujud tersisa yang asli dari produk yang satu ini. Sedikit berbeda dengan produk ‘Japarco’ nya (PT. SAMA ASRI LESTARI Surabaya) seperti pada posting sebelumnya dimana sampe hari ini kita masih bisa mendapatkannya walau sudah usang dan dengan sedikit ekstra usaha untuk mendapatkannya.

Versi Pertama

Ramboet Netjis adalah brand lokal yang kental dengan istilah perbendaharaan bahasa Indonesia, Netjis sendiri jika saat ini di artikan (necis/neΒ·cis/ /nΓ©cis/ a bersih dan rapi;  ) dan kemungkinan beredar pada rentang dekade ’30 – ’50 an, dan uniknya dari produk ini jika menyimak dengan seksama pada kemasan (walau sekedar cuilan gambar poster iklan dari produk rambut tersebut). Ramboet Netjis di manufaktur di Jepang oleh YAMAIHATSU BOEKIKAISHA LTD. dibawah naungan R. OGAWA & CO dan di distribusi oleh R. OGAWA & CO. MALANG JAVA (kemungkinan Malang Jawa Timur). Entah pada tahun berapa pastinya.

Merunut rekam jejak R. OGAWA & CO., adalah sebuah perusahaan yang berdiri pada tahun 1893 di Higashiku, Osaka, yang berfokus pada produk ‘flavour’ dan ‘fragrance’ (bedanya flavour ada rasa dan aroma, fragrance hanya aroma. Kurang lebihnya seperti itu). Kurang lebihnya Ramboet Netjis adalah produk import yang dikhususkan untuk pasar Indonesia (atau mungkin Melayu pada waktu itu).

Yang menjadi pertanyaan adalah, Produk apakah Ramboet Netjis ini ? Apakah produk shampoo, pelumas rambut/pomade ataukah pewarna rambut? Karena pada foto pertama di atas tidak terjabar dengan jelas mengenai deskripsinya.

Versi Kedua

Pada gambar poster di versi kedua ini, ada sedikit ‘clue’ atau petunjuk Bikin Ramboet Item, bisa berupa pewarna rambut dan bukan tidak mungkin adalah layak nya produk pelumas rambut atau minyak rambut jaman dulu yang handal dengan ‘jargon’ nya bikin rambut Hitam (semacam urang-aring dan sebangsanya seperti itu).

Versi ini di manufaktur oleh ISHI CHEMICAL FACTORY dan masih JAPAN juga A.K.A Jepang, Nippon, dan di pertegas di import oleh R. OGAWA & CO (mungkin sebagai pemegang merk) yang kali ini merujuk ke SEMARANG, Jawa Tengah. Mungkin saja jika produk ini beredar pada masa penjajahan Jepang di Indonesia di era 40 an, dan Jepang menempatkan beberapa titik perdagangan di kota-kota tertentu di Indonesia, mungkin terutama di Pulau Jawa untuk menyebarluaskannya. Atau memang hanya di 2 kota R. OGAWA & CO (gambar bawah) ada di Indonesia sebagai Firma.

Apakah Moestika ini ?
Sudah tidak menggunakan brand Ramboet Netjis lagi, RASIA semacam Minoxidil atau Wak Doyok dan sebangsanya sekarang.

Kembali ke bahasan ‘Ramboet Netjis’, dalam lingkup bahasan bab rambut (karena ada produk lain juga yang Rogawa hadirkan ke Indonesia tidak sekedar urusan rambut), akankah suatu saat nanti cuilan-cuilan cerita ini akan mengerucut menjadi sebuah kesimpulan , apakah titik cikal bakal produk rambut di Indonesia Rogawa ini menjadi salah satunya, yang diiringi dengan lahirnya Japarco, Rita, Hayjen, Tokyo Night, Lilas, Vycaris dan sebagainya, dan apakah hanya pewarna rambut dan penghitam rambut saja, adakah pelumas rambut juga yang sempat hadir waktu itu? ataukah Ramboet Netjis ini adalah pelumas rambut?

Semoga untuk saat ini cukup untuk untuk menyimpan cuplikan rentetan cerita ini, barangkali ada wacana baru yang lebih jelas untuk mengantarkan pada simpulan yang tajam dan jelas. Setidaknya jaman millenial saat ini tidak membuat kita lupa tentang sesuatu yang patut untuk dibanggakan dan pernah menghiasi Indonesia, bukan sekedar hype ‘merk’ yang justru membuat kita tidak kenal siapa jati diri kita sebenarnya, jati diri orang Indonesia yang sepatutnya bernyali bangga. Kurang lebihnya demikian.

Masa depan adalah misteri, dan kadang masa lalu pun demikian. Sedikit dan minimal menambah menambah wawasan, itu saja. Salam hormat, salam klimis dan terimakasih telah membaca walau seadanya dari @lalijungkatan, Jogjakarta, Indonesia.

Advertisements

MISUH ADALAH HAK

Sebuah pergerakan, dari sekian banyak ragam budaya nusantara, bernuansa budaya lestari, budaya Jawa.Β 

Dan yang unik dan belum pernah ada dalam cerita kali ini adalah, “Sayembara Misuh”. Mrngutip dari halaman facebook “Jawa Sastra” , 

Misuh menurut Jawasastra adalah ekspresi yang diucapkan yang menggambarkan suasana hati. Misuh memiliki sifat lugu dan apa adanya. Meski sudah banyak yang mengkaji dan menelisih asal usul maupun sejarah misuh, bahkan ada gerakan yang berupaya menyampaikan bahwa misuh itu bukan dosa. Tapi hingga saat in misuh belum mendapat ruang dan waktu untuk menunjukkan ekistensinya dengan cara dilombakan. Oleh karena itu JAWA Sastra menginisiasi lomba yang mungkin menurut perspektif orang kuno, “Tidak pantas”

Kebudayaan Jawa membutuhkan pembaharuan. Dengan mengusung tema “Lebih baik Saru daripada Sara“. Jawasastra yakin bahwa misuh bisa dieksplorasi, dimaknai kembali, dikreasi, dan senantiasa menemukan inovasi. Di dalam sayembara ini misuh mencoba untuk mengambil sisi positif, bukan negatif.

“MISUH ADALAH HAK”

Sebuah ide kreatif yang masih menghormati ranah-ranah etika tanpa melibatkan nuansa berbau kebencian, keberpihakan maupun hadirnya aroma-aroma unsur SARA

Sayembara Misuh 2018

Tertarik dan berminat untuk berpartisipasi ? silahkan telusuri informasi lebih detail nya ke halaman Facebook “Jawa Sastra” atau bisa ikuti instagram nya ke “Jawa Sastra Culture Movement“. 

Selamat berkreasi dan berimajinasi sepenuh hati, salam budaya

#klimiskagemsedanten