MISUH ADALAH HAK

Sebuah pergerakan, dari sekian banyak ragam budaya nusantara, bernuansa budaya lestari, budaya Jawa. 

Dan yang unik dan belum pernah ada dalam cerita kali ini adalah, “Sayembara Misuh”. Mrngutip dari halaman facebook “Jawa Sastra” , 

Misuh menurut Jawasastra adalah ekspresi yang diucapkan yang menggambarkan suasana hati. Misuh memiliki sifat lugu dan apa adanya. Meski sudah banyak yang mengkaji dan menelisih asal usul maupun sejarah misuh, bahkan ada gerakan yang berupaya menyampaikan bahwa misuh itu bukan dosa. Tapi hingga saat in misuh belum mendapat ruang dan waktu untuk menunjukkan ekistensinya dengan cara dilombakan. Oleh karena itu JAWA Sastra menginisiasi lomba yang mungkin menurut perspektif orang kuno, “Tidak pantas”

Kebudayaan Jawa membutuhkan pembaharuan. Dengan mengusung tema “Lebih baik Saru daripada Sara“. Jawasastra yakin bahwa misuh bisa dieksplorasi, dimaknai kembali, dikreasi, dan senantiasa menemukan inovasi. Di dalam sayembara ini misuh mencoba untuk mengambil sisi positif, bukan negatif.

“MISUH ADALAH HAK”

Sebuah ide kreatif yang masih menghormati ranah-ranah etika tanpa melibatkan nuansa berbau kebencian, keberpihakan maupun hadirnya aroma-aroma unsur SARA

Sayembara Misuh 2018

Tertarik dan berminat untuk berpartisipasi ? silahkan telusuri informasi lebih detail nya ke halaman Facebook “Jawa Sastra” atau bisa ikuti instagram nya ke “Jawa Sastra Culture Movement“. 

Selamat berkreasi dan berimajinasi sepenuh hati, salam budaya

#klimiskagemsedanten

Advertisements

Brylcreem Wax

BRYLCREEM WAX

Sebuah Cerita Singkat

 

Brylcreem, brand produk gaya rambut yang lahir di Inggris pada 1928, cukup “legend” di kelasnya dengan produk pertama yang tercipta adalah ‘Hair Cream’. Seiring bejalan nya waktu yang kini di pegang oleh Unilever

 

Cerita kali ini akan memaparkan seedikit mengenai salah satu varian ‘wax’ dari ‘Brylcreem’ yang layak untuk dicoba,

Pertama kali beredar kemungkinan pada era 2013-204, dengan isi pada deskripsi hanya 75 ml, tanpa tercantum informasi deskripsi bahan penyusun pada labelnya.

Karakter khas klasik ‘Oil Based’ dengan catatan keterangan ‘Strong Hold’. Dimensi kemasan diameter 7 cm dengan tinggi 4 cm (penampakan seperti pada gambar). Pot plastik pabrikan warna Merah dengan tutup Silver.

 

Visual pertama hadir tanpa asupan tambahan pewarna, tampak natural warna bahan penyusun. Aroma yang khas klasik perfumery khas ‘Brylcreem’. Menilik dan menganut apa yang tercantum pada keterangan bahwa wax satu ini menuliskan ‘Strong Hold’ dan apakah memang benar demikian jika produk satu ini ketika sudah singgah di Jogjakarta yang dataran rendah dan lumayan panas ini?

Setelah mencoba mencoleknya, sedikit keras pada awal pencolekan, tanpa ada efek empuk/membal sama sekali dan fase berikutnya setelah dicoba ratakan walhasil lebih berkarakter Medium atau Pure medium, oily dengan kilau yang sedikit dominan, tidak terlalu lengket ‘sticky’ yang cenderung ‘waxy’. Elegan dan cukup moderat digunakan bagi penggemar gaya rambut yang rapi, mudah ditata tanpa daya cengkeram yang berlebihan pada rambut dibalut aroma yang pas dan sedikit kilau.

Menilik dari segi isi, garis besar bahan yang terkandung berkarakter wax dan oil tanpa kehadiran material semi padat yang signifikan, cenderung bergaya tekstur natural tanpa lengket yang berlebihan, mudah diaplikasikan dan layak untuk dicoba jika anda penggemar klasikan gaya ‘oily’ dan ‘waxy’.

Sekilas cerita mengawali kembali untuk berbagi dan bercerita setelah beberapa waktu tidak sempat untuk menulis, semoga membawa manfaat, terimakasih

Salam klimis

#klimiskagemsedanten

@lalijungkatan

Japarco Brilliantine Pomade – Pomade Kenangan Masa Lampau – PART II

Artikel pertama di tahun 2018

Yang akan terpapar kali ini adalah sebuah lanjutan sederhana dari posting Part I (November 2013 yang lalu). Cukup lama dan inilah bagian terindah dari nilai sebuah proses, dimana ada perjuangan diidalamnya untuk mendapatkan apa yang bahasa awam ucapkan sebagai hobi koleksi.

Sedikit melanjutkan cerita tentang ‘Japarco’. Sebuah kenangan yang pernah ada hadir meramaikan gaya hidup klimis di Indonesia.

Japarco yang ke-3 berikut menggunakan kemasan jar beling kaca yang cukuplah tebal, dengan penutup logam dan menggunakan embos bertuliskan Japarco. Menggunakan tipe huruf ‘font’ klasik bergambar  sosok wajah dari sisi samping seorang pria dan wanita. Tidak terdapat keterangan isi atau beratnya yang tertera pada kemasan (umumnya dengan ukuran 5.5 cm x 6.5 cm seperti ini tidaklah jauh-jauh dari kisaran 100 gram atau sekitar 2.5 – 3 Oz). Berat total kemasan beserta isinya kurang lebih 200 gram.

Entah memiliki aroma bawaan apa yang sebenarnya terkandung dalam pelumas rambut tersebut karena termakan usia dan mulai hambar bahkan samar tercium. Kemungkinan tidaklah jauh dari aroma aroma classic gaya minyak rambut jaman dahulu seperti lavender, baby powder dan sebagainya.

Label dan embel-embel tulisan yang mengisi sekujur stiker (kertas) yang menempel pada kemasan tersaji dalam bahasa indonesia dan belanda (meskipun ada beberapa kata dalam bahasa Inggris yang menekankan demikian ‘Not Sticky – Not Gummy’ kurang lebih menekankan bahwa minyak rambut ini tidaklah lengket pada aplikasinya dan hanya cenderung memberikan nilai kilau pada rambut untuk memudahkan dalam penataan saja.

Bahasa Indonesia yang tercantum didalam nya sudahlah termasuk kekinian sebenarnya ‘di jaman nya’ ya, namun sebenarnya tidaklah tabu bagi beberapa penggiat kekunoan untuk menggunakan nya dijaman sekarang bukan?

Japarco membikin ramboet mendjadi haloes serta mengkilap. Menjegah rontoknja ramboet dan membbikin koeat djoega. Sangat bergoena bagi orang perempoean seabisnja pakai shampoo serta mengampangken bikin krul dan ombak ramboet, tidak mengendal dan tidak pliket

Kemungkinan besar produk yang satu ini dikhususkan untuk konsumsi kaum perempuan jika merunut deskripsi yang terpapar dalam keterangan pada label (namun mungkin juga tidaklah salah jika konon waktu itu pun banyak kaum adam yang menggunakannya).

Inilah poin yang saat ini layak untuk digaris bawahi apakah produk pelumas rambut semacam ini hanya untuk lelaki saja? untuk ‘gentleman’ saja? Jawaban yang masuk akal mungkin hanya ada di benak masing-masing pembaca sekalian seiring dengan ragam embel-embel argumentasi didalam nya.

Bahasa kedua sepertinya menggunakan Bahasa Belanda, layaknya versi dua bahasa dalam pengenalan produk yang esensinya tidaklah jauh berbeda. Hanya konteks sasaran penggunanya yang di titik beratkan pada waktu itu salah satu alasan yang tepat kenapa disajikan dalam pilhan 2 bahasa tersebut.

Logo bulat kecil bertuliskan ‘POMADE JAPARCO’. Pomade, sebuah kata yang sebenarnya cukup lama hadir di Indonesia.

Mengenai isi, tidaklah jauh dari gaya-gaya khas brilliantine seperti pada posting Hayjen Pomade terdahulu, lembut dan halus pada pencolekan, tanpa rasa berat, cukup tangguh untuk memberikan kilau pada rambut sesuai yang dideskripsikan pada ‘product knowledge’ dalam kemasan nya.

Kurang lebih sekelumit cerita pembuka di 2018 ini, mencoba kilas balik mengulik puing-puing produk gaya rambut tempo dulu yang ramai menghiasi Indonesia, jika untuk tahu pun kita harus berproses maka dengan kenal saja untuk sementara sudahlah dirasa cukup, untuk selanjutnya berjuang kembali untuk semakin tahu dan tahu.

Sekian saja dan terimakasih, dan salam klimis Indonesia.

 

Tematic Pomade Review

materi-instablog

TEMATIC REVIEW

Tematic review yang akan terpapar ke depan adalah sebuah wacana, pendapat yang diusung dari sudut pandang ‘user’ pengguna dengan bertema rangkaian ragam ‘brand’ pomade yang masih memiliki keselarasan citara yang sama. Seperti lingkup tema natural, petrol, organik, vegan, water based atau apapun penyebutannya dalam dinamika trend produk perawatan dan gaya rambut saat ini.

Bersinergi dengan sahabat pomade enthusiast untuk memapar ulang sekelumit pengalaman demi pengalaman dalam perjalanannya satu per satu dalam menikmati ragam pomade yang bertebaran di Indonesia, baik import, lokal, pabrikan maupun ‘home made’.

Hadir karena terlalu sering dalam kami bertatap muka, berbagi informasi dan tanpa lupa canda tawa layaknya bersosial dunia nyata, akhirnya mengerucut menjadi sebuah obrolan-obrolan yang sedikit bangkit membawa muatan edukasi dan pemahaman, pelan namun pasti mencoba menggali sebuah cerita ‘experience based’ dan menuangkannya dalam kajian sederhana dengan harapan semoga menambah katalog review yang telah terdokumentasi selama ini menjadi lebih beragam.

Sadar betul bahwa perbedaan akan nampak lebih indah jika kita bisa menyikapi dengan cara pandang yang lebih arif, bekerjasama dengan rekan-rekan penggemar dan pecinta pomade dari Jogjakarta khususnya (karena kebetulan porsi kami dalam berdinamika dan bertatap muka lebih dominan terjadi di kota Jogjakarta, tanpa menutup diri untuk selalu terbuka berbagi dengan semua sahabat dimanapun berada).

Sebagai permulaan untuk review tematik pertama berupa tematik review pomade Natural, yang akan dipersembahkan oleh

eddoz

Eddo 

Mengingat maraknya pertanyaan2 sehubungan dengan pomade apa yang cocok untuk rambut kita, lalu gimana cara menyikapi karakter pomade a b c dan juga cara mensiasati aplikasi pomade a b c untuk rambut kita…. saya berinisiatif untuk membuat serangkaian review yang bersifat kontinyu dengan mengambil tema tertentu dan memakai beberapa pomade yang berbeda brand namun masih sama konsepnya… dengan harapan agar komparasi karakter tiap produk bisa terbaca jelas dan juga pembaca mampu bersikap lebih bijak dan cermat dalam menggunakan beberapa produk pomade ato hairstylist tertentu…
.
Tentunya review kali ini sifatnya masih semi-objektif dan lebih berpusat dalam kajian siasat penggunaannya…. jadi saya ga akan ngomong panjang lebar ttg substansinya sendiri.. namun lebih ke dampak pada rambut kita (hasil penyisiran).
.
Kali ini.. saya coba untuk posting serangkaian deep review tematik tentang beberapa pomade..
dan tema yg akan coba saya angkat untuk pertama kali adalah pomade Non-Petrol a.k.a Natural..
.
Istilah Natural pada pomade modern nampaknya sudah mengalami pergeseran makna. Pada masa sekarang.. makna natural sendiri sudah tidak mengacu lagi pada bahan dasar minyak2 tumbuhan yang sifatnya hanya melumasi dan hanya memberi kilau. Namun lebih ke arah tipikal minyak rambut padat yang bebas bahan kimia sintetis, maupun bahan turunan minyak bumi yang berbentuk petroleum jelly, microcrystalline wax, mineral oil, dsb.. padahal jika kita mencoba menarik kembali sejarah terbentuknya bahan itu. Petrol dkk pun masih bisa disebut natural karena bahan pembentuknya masih mengambil dari sumber daya alam yang ada (minyak bumi). Apalagi di jaman skrg, para user seringkali salah kaprah dan mudah terprovokasi dengan istilah natural.
Dalam prakteknya, beberapa produk yg di labeli Natural oleh produsennya memiliki beberapa ciri khas yang sama.. yaitu tidak menggunakan bahan2 turunan petrol dkk, dan juga mengandung lebih banyak bahan minyak esensial yang sifatnya lebih ke perawatan rambut.. oleh karena itu.. karena review ini sifatnya DIY (tanpa sponsor sementara ini) saya mencoba untuk mereview secara mendalam, beberapa koleksi pribadi saya yang dilabeli natural alias non-petrol tersebut. Review ini murni saya buat agar teman2 lebih terbuka wawasannya tentang penggunaan pomade non-petrol yang notabene memiliki karakter yang lebih tidak umum, dan juga bagaimana cara mensiasatinya agar hasil pemakaian tetap maksimal. Tanpa bermaksud untuk promosi.

Sumber (Original) : Eddo

Bersama dengan para sahabat pecinta/pengguna/pemerhati/penikmat pomade Jogjakarta

pej

Menyajikan serangkaian beberapa pomade natural hasil jerih payah koleksi pribadi beliau untuk dipapar ulang.

natural-pomade

Semoga membawa manfaat bahwa misi sederhana blog ini untuk menyajikan beberapa rangkai review semata untuk menambah wawasan dan pemahaman kita sebagai pengguna untuk sedikit lebih mengerti secara mendalam. Kurang dan lebihnya adalah ketidaksempurnaan kita semua dalam berupaya semaksimal mungkin teman-teman berusaha.

Salam Klimis.

lalijungkatan-blogfooter

Hayjen Pomade

materi-instablog

Pomade Jadul itu bermerk Hayjen

Dengan dimensi yang unik berbentuk balok 2.5 cm x 4.5 cm x 5.5 cm dengan balutan warna Merah yang dominan dan isinya masih saja citarasa khas tempo dulu berupa Brilliantine atau bisa disederhanakan ‘Light Pomade’ yang lebih fokus memberikan efek kilau dan mudah ditata bagi para penggunanya, ya..sesederhana itu.

hayjen-1

Entah beredar dan diproduksi pada era tahun berapa kehadiran produk satu ini sempat bertebaran di Indonesia, yang pasti para sesepuh pendahulu yang lebih awal menikmati dunia klimis di Indonesia layak untuk bangga  menggunakan produk satu ini sebagai pengguna bahkan pecinta pomade pada jamannya.

Mengenai aroma, karena sudah terlalu lama dan mulai bereaksi dengan kemasan yang masih berbahan keping kaleng logam dengan hadirnya korosi dan muncul bercak-bercak karat, tidakmemungkinkan lagi untuk memaparkan ulang aroma apa sebenarnya yang dikandung pomade ini.

hayjen-4

Tekstur dan rasa dalam pencolekan begitu lembut, lengket layaknya ‘Murrays’s Pomade’ jika boleh diambil contoh sebagai pembanding, sedikit di atas light pomade ‘Superlight’ dan lembut pada saat pencolekan ‘scooping’.

Processed with VSCO

Pada kemasan tertuliskan PRODUCT BY HAYJEN PERFUMERY dengan gambar sosok wanita yang sedang berpose,

hayjen-2

Dan pada sisi sebaliknya semacam gambar mercusuar yang dibalut dengan tulisan Huruf Mandarin

hayjen-5

Jamanpun berubah dan modernisasi semakin tak terbendung memacu untuk selalu memberikan inovasi,

logo-hayjen2

Hayjen, dalam situs resminya tetap saja hadir tanpa melupakan sisi keunikan yang cenderung klasik ‘vintage’ dalam beberapa produknya yang sampe detik ini masih bertebaran di pelosok negeri.

lusayu-hayjen

Seperti terlihat pada gambar di atas, minyak rambut dengan merk ‘Lus Ayu’ pun sampai detik ini masih saja konsisten hadir  khas dengan kemasan botol kaca nya yang unik, retro, vintage.

Memiliki penggemar tersendiri yang masih saja loyal dan bangga dengan produk dalam negeri  yang diimbangi dengan keberadaan produk yang tak lekang oleh jaman dengan harga yang terjangkau dan sanggup terbeli untuk semua lapisan masyarakat yang berhak untuk tampil dengan gaya rambut kekinian tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam membuat produk seperti di atas tetap saja tangguh dan sanggup untuk mengimbangi dinamika perkembangan tren produk perawatan tubuh saat ini.

logo-hayjen

Salam klimis,

lalijungkatan-blogfooter